Oleh: maxsahuleka | Januari 22, 2009

Ketika Niat dan Tindakan tanpa disertai Ilmu dan Hakikat

Suatu ketika, seekor monyet yang sedang kehausan pergi ke sebuah kolam untuk minum agar dahaganya hilang. Ketika dia hendak minum, tiba-tiba perhatiannya terpusat pada seekor ikan mas koki yang berada di kolam tersebut. Dia perhatikan dengan seksama ikan tersebut. Lalu pikirannya berkata, “Kasihan sekali ikan tersebut, dia pasti butuh pertolongan.”

Lalu monyet tersebut segera menghampiri ikan tersebut, mengangkat dan meletakkannya di darat. Dan monyet itu kemudian berkata, “Sekarang pasti kamu merasa lebih baik.” Tak lama kemudian, ikan tersebut mati. Sang monyet bingung terhadap hal ini. “Bukankah aku telah menolongmu, bukankah kamu sekarang telah berada di tempat yang lebih baik, lalu mengapa engkau mati?”, tanya sang monyet kepada dirinya sendiri dalam hati.

Di tengah-tengah kita, banyak orang yang bertindak seperti monyet tersebut, yang menganggap tindakannya mengangkat ikan tersebut ke darat sebagai tindakan menolong dikarenakan dia melihat dari kacamatanya sendiri yang tidak dapat berenang. Kondisi sang ikan yang megap-megap semakin menegaskan dirinya bahwa sang ikan pasti butuh pertolongan, karena dia mengira ikan tersebut pasti sedang kesulitan untuk bernafas.

Lalu pertanyaannya adalah apakah yang dilakukan sang monyet adalah salah? Bukankah niatnya adalah baik, yaitu ingin menolong sang ikan? Jika salah, di manakah letak salahnya?

Niat sang monyet memang baik, namun itu tidaklah cukup untuk memperoleh hasil yang baik. Yang salah dari monyet tersebut adalah dia tidak memiliki ilmu untuk memahami hakikat bahwa ikan hidup di dalam air. Ini jugalah yang mungkin terjadipada para pengambil kebijakan di negeri kita.

Ada beberapa hal mengapa mereka tidak dapat melihat hakikat peristiwa. Yang pertama adalah kebodohannya. Yang kedua adalah keegoannya. Untuk yang pertama dapat diatasi dengan belajar. Namun sering kali, kekeliruan pengambilan kebijakan tersebut disebabkan karena keegoannya, melihat peristiwa/persoalan tersebut dari sudut pandangnya. Bahkan yang lebih celaka lagi, segala kebijakan yang diambil dalam rangka untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Jika ini yang terjadi berarti orang tersebut lebih buruk daripada monyet tersebut.

Jadi, niat baik saja tidaklah cukup, pahamilah hakikat peristiwa. Untuk itu, kita harus memperbanyak informasi dan pengetahuan, menghilangkan terlebih dahulu asumsi-asumsi. Orang bijak pernah berkata, “Memahami hakikat persoalan sama saja telah menyelesaikan separuh persoalan tersebut.”

Ditulis oleh : Max Hendrian Sahuleka

Dimuat di : Buletin Serambi Ilmu edisi no. 11/SI/V/2008

Surat Abasa (Surat ke-80)

 

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Dia bermuka masam dan berpaling.

Karena telah datang seorang buta kepadanya.

…………………………

 

            Banyak ulama meyakini bahwa kata ‘dia’ dalam ayat tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad. Berikut ini adalah dialog saya dengan seorang ustad (yang saya tidak perlu saya sebutkan namanya) setelah selesai acara bedah buku di Al-Azhar yang pada akhirnya membahas tentang ayat tersebut?

 

Saya :

“Saya setuju dengan pernyataan ustad yang menyatakan bahwa di tengah-tengah masyarakat ada upaya untuk mendiskreditkan Islam yang dilakukan dengan berbagai cara. Dan seperti yang anda katakan, bukan hanya upaya untuk mendiskreditkan Islam melainkan juga upaya mendiskreditkan nabi, seperti pendiskreditan citra para nabi, yang bahkan hal tersebut termaktub dalam Injil.”

“Menurut saya, hal tersebut juga menimpa diri Rasulullah. Ada upaya-upaya yang menurut saya adalah upaya mendiskreditkan nabi, bahkan dengan cara yang sangat halus. Jika pendiskreditan citra para nabi sebelum Rasulullah dilakukan dengan cara yang terang-terangan yaitu dengan mengubah teks-teks Injil tentang kisah para nabi, maka dalam Islam hal tersebut terjadi melalui terjemahan dan tafsiran.”

“Dan banyak terjemahan dan tafsiran yang menurut saya perlu kita kritisi. Terjemahan dan tafsiran tersebut patut dikritisi bukan hanya karena landasannya tidak kuat melainkan juga bersifat mendiskreditkan nabi entah kita menyadarinya atau tidak. Salah satunya adalah tentang surat Abasa. Apakah menurut anda, yang bermuka masam yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah Rasulullah?”

 

Ustad :

“Menurut saya, ayat tersebut sudah jelas, bahwa yang bermuka masam di situ adalah Rasulullah. Hal tersebut terjadi ketika suatu ketika nabi sedang bersama kalangan bangsawan Quraisy tiba-tiba datang seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Lalu Rasulullah bermuka masam terhadap orang buta tersebut karena kurang tepat waktu, tempat dan kondisinya, karena saat itu Rasulullah sedang membahas urusan yang sangat penting dengan kalangan bangsawan Quraisy tersebut. Ayat tersebut adalah teguran kepada Rasulullah atas sikapnya tersebut. Dan hal tersebut juga sudah jelas karena al-Quran diturunkan kepada nabi Muhammad. Jadi, jelas yang dituju dalam ayat tersebut adalah nabi Muhammad.”

 

Saya:

“Al-Quran memang diturunkan kepada nabi Muhammad, tetapi banyak pula ayat yang turun yang ditujukan kepada orang lain atau suatu kelompok atau masyarakat.”

“Lagipula jika ayat tersebut diturunkan dalam konteks Allah ingin menegur Rasulullah, mengapa kata ganti orang yang digunakan di situ adalah ‘Dia’, bukannya menggunakan kata ‘engkau’ atau ‘kamu’?”

 

Ustad:

“Dalam struktur bahasa Arab, penggunaan kata ‘engkau’ atau ‘kamu’ bisa berlaku untuk subyek yang sama. Misalnya saja, Allah kadang-kadang menggunakan kata ‘Aku’, ‘Engkau’, atau ‘Dia’ bahkan ‘Kami’.”

 

Saya:

“Saya nggak ngerti, kok tiba-tiba larinya ke Allah. Lagi pula Allah menggunakan kata ganti Diri-Nya dengan ‘Aku’, Engkau’, ‘Dia’ dan ‘Kami’ tergantung ‘posisi’ Allah ketika ayat tersebut disampaikan. Ketika ayat tersebut diturunkan dalam konteks seolah-olah Allah yang berbicara langsung, maka kata ganti yang digunakan adalah ‘Aku’ Sedangkan jika ayat tersebut diturunkan kepada manusia, dan seolah-olah manusia yang sedang berbicara atau menunjuk pada Allah, maka kata ganti yang digunakan adalah ‘Engkau’ atau ‘Dia’, kata ‘Engkau’ merujuk ketika posisi si hamba yang seolah-olah sedang berbicara tersebut melalui al-Quran adalah terasa sangat dekat. Dan jika ayat tersebut seolah-olah Allah juga melibatkan manusia atau utusannya, maka kata ganti yang digunakan adalah ‘kami’. Menurut saya ini adalah sederhana saja.”

 

Ustad:

“Struktur bahasa Arab tidak sesederhana yang anda paparkan. Dan ada baiknya jika anda ingin membahas tentang hal tersebut dari segi bahasa maka tanyakan saja kepada orang yang ahli bahasa Arab, karena saya kurang menguasai untuk hal tersebut.”

 

Saya:

“Baiklah, kalo begitu saya akan melihat atau bertanyanya dari hal yang lain. Menurut anda, di manakah letak uswatun hasanah (berbudi pekerti yang agung)-nya Rasulullah dari sikap seperti itu? Lalu di manakah letak ketauladan nabi dari sikap seperti itu? Bagaimanakah sikap itu dapat memberi pelajaran bagi umat?”

 

Ustad:

“Memang, ada sebagian orang yang berkeberatan dengan hal tersebut (bahwa nabi Muhammadlah yang bermuka masam), terutama kalangan Syi’ah (tapi bukannya saya menuduh mas adalah Syi’ah). Kalangan Syiah menolak hal ini (bahwa nabi Muhammad yang bermuka masam) karena kemaksuman nabi yang mereka pahami adalah nabi benar-benar terjaga dari segala sifat yang buruk. Padahal itu hal yang manusiawi. Kemaksuman nabi justru ketika baru sedikit saja berbuat hal yang mungkin kurang baik, padahal itu hal yang biasa saja, Allah sudah menegurnya sehingga beliau terjaga akhlaknya. Apalagi Abdullah bin Ummi Maktum datang pada saat yang kurang tepat untuk bertanya kepada nabi, karena nabi saat itu sedang membahas hal-hal yang sangat penting dengan kalangan bangsawan Quraisy.”

“Justru pesan yang ingin disampaikan di situ adalah bahwa hal tersebut adalah hal yang wajar saja, dan menunjukkan bahwa nabi adalah manusia juga seperti kita. Justru ayat tersebut menegaskan bahwa kita hendaknya jangan bermuka masam karena Allah sendiri menegur nabi karena bersikap seperti itu.”

 

Saya:

“Apakah yang namanya manusia ada kemestian untuk bermuka masam sehingga dia akan disebut bukan manusia atau kehilangan kemanusiaannya jika dia tidak pernah bermuka masam?”

“Apakah nabi harus melakukan keburukan terlebih dahulu baru kemudian ditegur oleh Allah untuk menunjukkan dan mengajarkan kepada kita bahwa perbuatan tersebut adalah buruk dan janganlah dilakukan. Bukankah itu justru malah bisa menjadi justifikasi atas sikap kita jika melakukan itu. Misalnya saja, ketika kita bermuka masam, kita bisa saja mencari justifikasi dengan mengatakan “nabi saja bermuka masam, apalagi saya, masa saya tidak boleh”. Bukankah kita akan lebih mudah untuk tidak bersikap seperti itu jika Rasulullah yang merupakan tauladan kita tidak pernah melakukannya? “Kalo begitu ‘bermuka masam’ termasuk sunnah nabio dong”, kata saya terhadap ustad tersebut. “Pantas saja saya sering menemukan orang-orang Islam, bahkan banyak ustad, yang suka bermuka masam. Dan jangan-jangan ayat ini yang dijadikan landasannya.”, kata saya agak menyindir.

“Kelihatannya kita menghukumi sifat nabi dari kacamata kita, bukannya kita yang bercermin pada nabi. Karena kita atau mayoritas orang suka bermuka masam maka kita generalisasikan bahwa semua manusia, termasuk Rasulullah, pasti (pernah) bermuka masam. Jadi ada logika yang terbalik bahwa kita menghukumi karakter nabi dari kacamata kita, bukan menghukumi kita dari kacamata nabi. Dan menurut saya, jelas tidak ada sedikitpun budi pekerti yang agung dari sikap bermuka masam tersebut. Dan saya tidak tahu apakah pendapat saya ini menurut pandangan Syiah atau bukan, yang jelas saya menelaahnya dengan menggunakan dali aqli, baik secara logika, riwayat maupun yang lainnya.”

“Dalam banyak ayat dan hadits, nabi mengajarkan kepada kita agar kita peduli terhadap kaum fakir, miskin, papa, tertindas atau yang kurang beruntung. Lalu di manakah letak kekonsistenan nabi terhadap apa yang diajarkannya tersebut dengan sikap seperti itu? Layakkah kita mengikuti seseorang yang tidak konsistenan? Hal ini kurang lebih sama, jika kita mau analogikan, dengan orang-orang yang sering kali mengatasnamakan dan membela rakyat untuk memperoleh kedudukan, tetapi ketika dia sudah menjadi pejabat, dia enggan untuk bergaul dengan rakyat, sehingga kalo ada rakyat yang ingin bertemu dengannya dia tolak kedatanggannya atau bermuka masam kepada mereka jika mereka sudah terlanjur datang.”

 

Ustad:

“Itu sih terserah anda mau mengikuti Rasulullah atau tidak”, katanya agak kesal. “Lagipula anda tidak bisa menganalogikan nabi dengan para pejabat tersebut! Al-Quran tidak bisa anda jelaskan dengan hanya menggunakan akal.”

 

Saya :

“Lah, bukankah banyak ayat dalam al-Quran memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita? Bahkan ada ayat di al-Quran yang menyatakan bahwa orang-orang yang masuk neraka nanti berkata ‘jika kami dahulu menggunakan akal kami niscaya kami tidak seperti ini (berada dalam neraka)’.”

“Baiklah jika anda berkeberatan dengan logika, saya akan mengkritisinya dari sisi riwayat, karena landasan atas tafsiran tersebut berangkan dari sebuah riwayat. Tapi pernahkah anda juga mendengar ada riwayat yang menurut saya lebih sahih yang menunjukkan bahwa bukan nabi Muhammad yang bermuka masam, melainkan salah seorang bangsawan Quraisy yang cukup ternama? Dia bermuka masam karena ketika orang buta tersebut (Abdullah bin Ummi Maktum) datang, Rasulullah menyambutnya dengan penuh hormat dan memberikan tempat duduk yang paling dekat dengan dirinya. Karena Abdullah bin Ummi Maktun miskin dan buta, para pembesar Quraisy merendahkannya dan mereka tidak suka dengan penghormatan dan penghargaan yang ditujukan kepadanya oleh nabi Muhammad saw. Mereka juga tidak suka dengan kehadiran orang buta di tengah-tengah mereka sendiri dan perkataannya yang menyela perbincangan mereka dengan nabi Muhammad saw. Akhirnya, salah seorang dari Bani Umayah (yakni Utsman bin Affan) bermuka masam dan berpaling kepadanya.”

“Menurut saya, langkah nabi yang menyambut Abdullah bin Ummi Maktum dengan hormat dan memberikan tempat duduk di sampingnya merupakan dakwah yang sangat bijak untuk mengajarkan bahwa hendaknya kita memperlakukan semua manusia itu adalah sama kepada kalangan bangsawan tersebut yang menilai manusia dari sisi kekuasaan dan kekayaannya.”

 

Ustad:

“Ya, saya pernah mendengar versi riwayat yang seperti itu. Dan umumnya riwayat tersebut banyak diriwayatkan dan lebih dianggap sahih oleh ulama dan kalangan Syiah. Karena mereka umumnya membenci sebagian sahabat, khususnya tiga khalifah pertama setelah nabi karena dianggap telah mengambil haknya Ali sebagai pemimpin. Dan riwayat yang anda paparkan tersebut jelas merupakan versi Syiah karena mereka sering kali berupaya ingin mendiskreditkan para sahabat.”

 

Saya:

“Waduh, kok Syiah dibawa-bawa lagi. Saya memaparkan riwayat tersebut agar kita mau menelusuri kesahihan sebuah riwayat. Jika anda keberatan, anda kemukakan sumber riwayat yang anda kemukakan demikian juga saya untuk kemudian kita telaah secara sanadnya.” “Mengenai kepemimpinan pasca Rasulullah wafat, kalo kita mau diskusi, ini nanti panjang lagi.”

“Tapi saya merasa aneh dengan anda, anda berkeberatan ketika saya katakan bahwa yang bermuka masam adalah Utsman bin Affan, tapi anda tidak ada sedikit pun berkebaratan bahkan yakin ketika itu dinisbatkan kepada nabi Muhammad saw.” “Manakah yang lebih mulia, nabi Muhammadkah atau Utsman bin Affan?” “Saya yakin jawabannya sudah jelas, yaitu nabi Muhammad saw. Jadi akan lebih mudah kita terima secara logika yang bermuka masam itu adalah Utsman bin Affan dibandingkan Rasulullah. Tapi jika anda berkebaratan dengan hal tersebut, setidak-tidaknya anda bisa meyakini yang penting bukanlah nabi Muhammad yang bermuka masam.”

 

Ustad:

“Wah, anda tidak bisa menjelaskan dengan retorika seperti itu

 

Saya:

“Saya nggak habis pikir, kenapa anda sangat berkeberatan dengan pernyataan saya yang menyatakan bahwa bukanlah nabi Muhammad yang bermuka masam yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.”

“Baiklah, ini yang terakhir, menurut anda manakah yang lebih baik, berprasangka baik (husnudzan) atau berprasangka buruk (su’udzan)?

 

Ustad:

“Menurut saya itu sudah jelas jawabannya, yaitu berprasangka baik.”

 

Saya:

“Saya setuju dengan anda, berprasangka baik adalah lebih baik dibandingkan berprasangka buruk. Jadi, jika saya meyakini bahwa bukan nabi Muhammad yang bermuka masam, dan jika ternyata nabi Muhammadlah yang bermuka masam, berarti saya sudah berprasangka baik terhadap nabi. Tapi jika anda meyakini bahwa nabi Muhammadlah yang bermuka masam, dan jika ternyata bukan nabi Muhammad yang bermuka masam, berarti anda sudah berprasangka buruk kepada nabi Muhammad.”

“Bukankah Allah meminta kita agar mencintai Rasulullah, bahkan mencintai Rasulullah melebihi kecintaan kita terhadap diri kita sendiri?” “Jadi, jika kita tidak mencintai Rasulullah dengan kecintaan yang melebihi kecintaan kita terhadap diri kita sendiri saja tidak boleh, apalagi sampai berprasangka buru atau mendiskreditkan nabi. Na’udzubillah min dzalik.”

“Terima kasih ustad, anda sudah meluangkan waktu buat saya untuk berdiskusi. Semoga ada manfaatnya bagi saya. Mungkin lain waktu, kita bisa berdiskusi lagi.”

 

— M H S —

Oleh: maxsahuleka | November 8, 2007

Bahlul Mengkritik Harun

    Suatu hari, Bahlul berada di dekat Harun. Lalu Harun berkata, “Wahai Bahlul, kritik aku!”

Bahlul kemudian berkata, “Wahai Harun! Jika tak ada air di gurun, sementara engkau sangat haus dan mendekati kematian, apa yang akan kau berikan untukl seteguk air segar?”

Harun menjawab, “Dinar-dinar emas.”

Bahlul bertanya lagi, “Bagaimana jika orang yang memiliki air itu tidak mau menukar airnya dengan dinar-dinar emasmu? Apa yang akan kau berikan?”

Harun menjawab, “Aku akan berikan separuh kerajaanku.”

Bahlul bertanya lagi, “Setelah meminum air itu, kau terserang penyakit yang membuatmu tidak dapat buang air kecil. Sekarang, apa yang akan kau berikan pada satu-satunya orang yang dapat menyembuhkan penyakitmu?”

Harun menjawab, “Aku akan berikan sisa kerajaanku.”

Bahlul lalu berkata, “Maka janganlah kau anggap penting kerajaan ini, karena dia tidak lebih berharga daripada seteguk air. Apakah tidak sepatutnya engkau berbuat baik pada makhluk-makhluk Allah?”

 

(Diambil dari “Kisah-kisah Jenaka Penuh Hikmah Si Bahlul” yang ditulis oleh Kubra Jafri yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Zahra)

 

Oleh: maxsahuleka | November 8, 2007

Bahlul dan Makanan Khalifah

Harun ar Rasyid mengirim sedikit makanan untuk Bahllul. Pelayannya lalu membawa makanan tersebut kepada Bahlul. Ia meletakkan makanan tersebut di hadapan Bahlul, lalu ia berkata, “Ini adalah makanan istimewa Khalifah, ia telah mengirimkannya untuk kau makan.”

Bahlul lalu memberikan makanan tersebut kepada seekor anjing yang duduk di reruntuhan bangunan dekat tempat itu. Pelayan itu pun berteriak, “Mengapa kau berikan makanan Khalifah kepada anjing?!”

Bahlul berkata, “Diamlah! Jika anjing itu mendengar bahwa Khalifah yang mengirimkan makanan itu, maka ia tak akan mau memakannya juga!”

 

(Diambil dari “Kisah-kisah Jenaka Penuh Hikmah Si Bahlul” yang ditulis oleh Kubra Jafri yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Zahra)

 

Oleh: maxsahuleka | November 8, 2007

Sekelumit Kisah tentang Bahlul

Bahlul lahir di Kufah, Irak. Nama aslinya adalah Wahab bin Amr. Harun ar Rasyid (khalifah saat itu dari bani Abbasiyah) takut akan keselamatan kekhalifahan dan kerajaannnya. Ia merasa terancam dengan dengan keberadaan Imam Musa al Kazhim. Oleh karena itu, ia mencoba untuk menyingkirkan imam. Ia lalu mengecam pembangkangan Imam terhadapnya dan menuntut keputusan pengadilan dari orang-orang yang dianggap bijak pada masa itu. Termasuk di dalamnya Bahlul.

Semua orang, karena takut pada Harun, memutuskan bahwa Imam bersalah kecuali Bahlul, ia justru menentang keputusan tersebut. Lalu ia segera pergi kepada Imam dan memberi informasi tentang kondisi saat itu. Ia meminta nasihat dan petunjuk Imam. Kemudian Imam mengatakanagar ia bertingkah layaknya orang gila.

Karena kondisi tersebut (bahwa keselamatan dirinya terancam karena menentang keputusan pengadilan rekayasa Harun), Bahlul pun akhirnya bertingkah layaknya orang gila atas perintah Imam. Dengan melakukan hal itu, ia selamat dari hukuman Harun. Sekarang, tanpa takut pada bahaya dan dengan cara melucu, Bahlul melindungi dirinya dari tirani. Ia mencerca kezaliman khalifa dan para anggota istana, dengan cara berbicara. Namun demikian, rakyat mengakui kebijaksanaan dan keistimewaannya yang luar biasa. Bahkan hingga sekarang, banyak cerita tentangnya dibawakan dalam majelis-majelis dan memberikan pelajaran-pelajaran-pelajaran berharga bagi para pendengarnya.

Menurut riwayat yang lebih populer, beberapa sahabat Imam dan teman-teman dekat beliau datang kepada beliau untuk meminta nasihatkarena Khalifah Harun marah pada mereka. Imam lalu menjawab dengan hanya menyebut sebuah huruf, yaitu huruf jim (ج); mereka memahaminya dan tidak bertanya lebih lanjut.

Ternyata, setiap orang memahami nasihat Imam dengan cara yang berbeda. Salah seorang memaknai jim sebagai ‘jala watan’ yang berarti mengasingkan diri. Yang lainnya mengartikannya sebagai ‘jabal’ yang berarti gunung. Sementara Bahlul mengartikannya sebagai ‘jinin’ yang berarti gila. Itulah cara-cara bagaimana sahabat-sahabat Imam dapat terselamatkan dari malapetaka.

Sebelum bertingkah gila, Bahlul hidup sebagai orang yang berpengaruh dan berkuasa. Tetapi setelah menjadi pengikut Imam, ia mengalihkan wajahnya dari kekuasaan dan kemegahan dunia. Pada kenyataannya, ia menjadi “gila” kepada Allah SWT. Ia mengenakan pakaian yang uruk, lebihmemilih tempat-tempat terpencil ketimbang tinggal di istana Harun, hidup dengan hanya memakan sepotong roti basi. Ia tidak menerima pemberian dari atau bergantung pada Harun dan orang-orang seperti Harun. Bahlul menganggapnya dirinya lebih baik daripada Khalifah dan para anggota istana dengan jalan hidup yang ia tempuh.

Syair

Mereka yang bertabiat sebagai rajapatut memperoleh penghormatan dari para penguasa kerajaan.

Ini adalah raja yang buruk, yang budak-budaknya adalah para raja yang agung dan berkuasa, seperti Raja Jamsyid dan Khaqan.

Hari ini ia mengabaikan keindahan dunia, tetapi esok ia bahkan tak akan memandang penting surga.

Janganlah memandang hina para pengemis ini, yang tidak memakai sepatu di kaki-kaki mereka!

Mereka lebih berharga bagi kebijaksanaan daripada mata yang menangis karena takut kepada Allah.

Seandainya Adam menjual surga seharga dua buti gandum, maka ketahuilah orang-orang ini bahkan tidak akan membelinya meskipun seharga satu butir gandum.

Bahlul sungguh-sungguh mencurahkan perhatiaannya kepada Allah.

Ia adalah seorang alim yang cerdas dan berbudi luhur.

Ia adalah orang yang menguasai pikiran dan tingkah laku.

Ia berbicara dengan jawaban terbaik yang telah siap di bibirnya.

Ia membela keyakinannya dan syariat.

Bahlul bertingkah gila atas perintah Imam, dikarenakan kecintaannya pada Ahlulbait (Keluarga Nabi saw.), sehingga ia dapat menegakkan hak-hak mereka yang telah dilanggar.

Tak ada jalan lain bagi Bahlul untuk melindungi hidupnya. Sebagai contoh, Harun berkata kepada pejabatnya, Yahya bin Khalid Barmaki, bahwa mendengar kata-kata murid Imam Ja’far Shadiq (ayah Imam Musa al Kazhim), Hisyam bin Hikam—yang membuktikan keimaman Imam Musa al Kazhim—sebagai sesuatu yang lebih berbahaya daripada 100.000 pedang. Harun berkata, “Bahkan mengherankan bahwa Hisyam masih hidup sementara aku berkuasa.”

Harun berencana untuk membunuh Hisyam. Hisyam mendengar hal ini, sehingga ia melarikan diri dari Kufah, dan bersembunyi di rumah seorang temannya. Namun tak lama kemudian ia meninggal dunia.

(Diambil dari “Kisah-kisah Jenaka Penuh Hikmah Si Bahlul” yang ditulis oleh Kubra Jafri yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Zahra)

Oleh: maxsahuleka | November 7, 2007

Membangun Pribadi Muslim Tangguh

Dewasa ini, posisi umat Islam secara umum baik dalam dunia olahraga, bisnis, ilmu pengetahuan maupun teknologi masih kalah dibandingkan Yahudi, Nasrani, Kong Hu Chu (Confusius), Hindu bahkan Sinto yang pemeluknya sangat sedikit. Bahkan tidak satu pun negara-negara yang berpenduduk mayoritas Islam yang menguasai baik dalam dunia olahraga, bisnis, ilmu pengetahuan maupun teknologi. Kita masih kalah dengan Amerika dan Eropa yang mayoritas Nasrani, China yang mayoritas Kong Hu Chu, India yang mayoritas Hindu dan Jepang yang mayoritas Sinto.

 
Mengapa kita sebagai umat Islam bisa kalah dari mereka? Bukankah Rasulullah mengatakan bahwa kita adalah umat yang terbaik? Apakah yang menyebabkan umat Islam bisa kalah? Dan pertanyaan terakhir yang sekaligus merupakan pertanyaan terpenting adalah bagaimana supaya kita dapat menang dari mereka?

 
Untuk menggapai kemenangan, umat Islam harus membangun pribadi yang tangguh. Bagaimana membangun pribadi muslim yang tangguh?

 
Berikut ini adalah upaya-upaya untuk membangun pribadi muslim tangguh yang dikemukakan oleh Ayatullah Khomeini yang merupakan nasihat atau wasiat untuk kaum muslimin, yaitu :

1.        Ikuti perkembangan umat Islam.

2.        Banyak-banyaklah menelaah berbagai buku (agama, sosial, politik, sains, filsafat, sejarah, sastra, dan lain-lain).

3.        Pelajari ilmu-ilmu teknik yang dibutuhkan negara Islam.

4.        Pandanglah fakir miskin dari segi material, dan ulama dari segi spiritual.

5.        Lupakan pekerjaan-pekerjaan baik Anda, dan ingatlah dosa-dosa Anda yang lalu.

6.        Shalatlah yang lima tepat pada waktunya, dan berusahalah shalat tahajjud.

7.        Jangan banyak bicara dan seringlah berdoa.

8.        Kurangi waktu tidur dan perbanyaklah membaca Al-Quran.

9.        Pelajari dan perdalamlah ilmu tajwid dan bahasa Arab.

10.     Sedapat-dapatnya berpuasa setiap hari Senin dan Kamis.

11.     Perhatikan dan tepatilah sungguh-sungguh janji Anda.

12.     Berinfaklah kepada fakir miskin.

13.     Hindarilah tempat-tempat maksiat.

14.     Hindari tempat-tempat pesta pora dan janganlah Anda mengadakannya.

15.     Berpakaianlah secara sederhana.

16.     Berolahragalah (senam, marathon, dan lain-lain).

 
Tinggal pertanyaannya adalah sudahkah kita menjalankan itu semua? Jika belum, wajar saja jika umat Islam belum dapat mengalahkan bangsa-bangsa lain dan menjadi pemimpin. Mungkin kita baru bisa jadi pemimpi. Tapi semoga impian itu adalah impian yang bisa mendorong dan menggerakkan kita untuk mengambil tindakan yang benar-benar akan mengantarkan kita menjadi pemimpin. Kapan? Itu tergantung pada komitmen dan konsistensi kita untuk membangun pribadi kita.

 

— M H S —

Oleh: maxsahuleka | November 7, 2007

Akibat Ingin Khusyuk Dalam Shalat

Suatu ketika, ketika saya sedang berada di sekretariat YISC Al-Azhar, teman saya bernama Ma’ruf, dengan panik dan nafas tersengal-sengal bertanya kepada saya apakah saya melihat seorang lelaki dengan menyebutkan ciri-ciri dan penampilannya.

Lalu saya bertanya,” memangnya ada apa? ” “Dia ngambil HP gue”, kata Ma’ruf. “Loh kok bisa dia ambil HP kamu, gimana ceritanya?”, tanya saya. “Pas lagi shalat, dia berdiri berjamaah di samping gue, lalu dia pindahin jaket gue yang di dalamnya ada HP gue yang gue taruh di depan gue.”, kata Ma’ruf. “Kok loe biarkan dia pindahin jaket loe?”, tanya saya. “Gue positif thinking aja, mungkin jaket itu ngalangin dia shalat. Lagi pula kan gue lagi shalat. Ntar kalo gue mikirin jaket itu, shalat gue jadi kagak khusyuk lagi.”, kata Ma’ruf. “Ruf, gue yakin loe pasti kagak konsentrasi pas lagi shalat karena kepikiran ama jaket loe. Kenapa nggak batalin aja shalat loe terus pindahin jaket loe ke tempat yang aman. Atau minimal ketika orang itu hendak pindahin jaket loe, loe bisa bergerak memegang dirinya atau memberi kode agar jaket itu jangan dipindahkan.”, kata saya. “Wah, masa gue harus batalin shalat gue, berarti gue mengutamakan dunia dong dibanding akhirat. Kalo gue bergerak untuk mencegah itu atau ngasih kode sama aja shalat gue batal dong atau nggak khusyuk.”, kata Ma’ruf. “Lah, loe bisa tahu ciri-ciri dan penampilan orang itu berarti loe juga udah nggak khusyuk dengan shalat loe dong, karena loe melirik atau merhatiin dia. Ya, sudah kalo gitu ikhlasin aja. Kalo loe nggak ikhlas berarti sama saja kalo loe nggak khusyuk waktu shalat tadi.”, kata saya. Ma’ruf hanya bisa tersenyum kecut mendengar komentar saya. Tapi yang lebih pahitnya lagi ketika seorang teman saya ikut berkomentar, “Makanya kalo belum kayak, kalo masih takut kehilangan, shalatnya kalo gitu jangan khusyuk-khusyuk, karena akhirnya bikin stress diri kalo kejadiannya kayak loe gini.”

Mungkinkah yang terjadi pada teman saya, Ma’ruf, adalah ujian dari Allah untuk kekhusyukannya, atau ….. ???

Oleh: maxsahuleka | November 7, 2007

Adakah Sesuatu Yang Disebut Dengan Kebetulan?

Saya mendapat kabar dari sahabat saya (Abdul Salam) bahwa Ali Basya, sahabat saya mengalami kecelakaan di Semarang. Dan kami berdua berniat malamnya untuk berangkat menuju rumah sakit di mana beliau dirawat.

Karena saya ada kegiatan hingga jam 9 malam, kami memutuskan untuk berangkat menggunakan kereta ekonomi yang jam 10. Dan saya janjian dengan teman saya di halte Mampang. Setibanya di halte Mampang, kami berdua menunggu bis Kopaja P20 yang menuju stasiun Senen. Namun lama sekali kami menunggu bis tersebut. Ingin naik taksi, keuangan agak terbatas. Akhirnya bis tiba dan kami sampai di stasiun Senen jam 11.20 malam. Dan menariknya, ternyata kereta yang kami naiki, yang kata petugasnya 10 menit lagi akan berangkat adalah kereta yang seharus berangkat jam 10 malam. Dalam hati saya, “Untung saja keretanya belum berangkat. Kebetulan sekali.”

Lalu kami masuk ke gerbong. Karena kosong, kami duduk di tempat yang menurut kami nyaman tanpa melihat nomor bangku yang tertera pada karcis yang menunjukkan tempat saya di mana saya harus duduk. Jujur saja, itulah pengalaman saya yang pertama pergi ke luar kota dengan menggunakan kereta api. Dan saya sendiri tidak tahu apakah untuk duduk itu sudah ditentukan atau belum.

Setibanya di Cirebon, ada pemeriksaan karcis dan penertiban tempat duduk oleh petugas. Saya baru sadar ternyata untuk duduk sudah ditentukan sebelumnya dari tiket yang dibeli. Tapi ajaibnya, kami ternyata duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket kami. Ini sebuah kebetulan yang luar biasa, karena kereta tersebut ada 10 gerbong dan setiap gerbong terdiri dari banyak bangku. Lalu pertanyaannya, “Kok bisa ya kami duduk tepat di nomor yang tertera di tiket tanpa melihatnya.”

Apakah ini kebetulan, atau ….. ???

Oleh: maxsahuleka | November 7, 2007

Niat Saja Tidaklah Cukup (1)

 

            Suatu ketika, seekor monyet yang sedang kehausan pergi ke sebuah kolam untuk minum agar dahaganya hilang. Ketika dia hendak minum, tiba-tiba perhatiannya terpusat pada seekor ikan mas koki yang berada di kolam tersebut. Dia perhatikan dengan seksama ikan tersebut. Lalu pikirannya berkata, “Kasihan sekali ikan tersebut, pasti dia dalam kondisi menderita, dia pasti sedang butuh pertolongan”.

            Lalu monyet tersebut segera menghampiri ikan tersebut dan mengangkatnya dan meletakkannya ke darat. Dan monyet itu kemudian berkata, “Sekarang pasti kamu merasa lebih baik.” Tapi tak lama kemudian, ikan tersebut mati. Sang monyet bingung terhadap hal ini. “Bukankah aku telah menolongmu, bukankah kamu sekarang telah berada di tempat yang lebih baik, lalu mengapa engkau mati?”, tanya sang monyet kepada dirinya sendiri dalam hati.

            Di tengah-tengah kita, banyak orang yang seperti monyet itu. Dia merasa bahwa dia telah melakukan kebaikan terhadap orang lain. Jika demikian, mengapa kondisinya tidak menjadi lebih baik, bahkan lebih buruk. Para ekonom telah menganjurkan berbagai formula untuk mengatasi inflasi, tapi inflasi terus saja merangkak naik. Para politisi mencari berbagai cara mengatasi konflik dan mengatur pemerintahan, tetapi yang ada pemerintahan semakin semrawut dan konflik masih saja terus terjadi. Lalu pertanyaannya adalah apakah yang salah dengan semua tindakan tersebut?

            Sering kali, kita mengambil keputusan seperti monyet tersebut. Monyet tersebut menganggap tindakannya mengangkat ikan tersebut ke darat sebagai tindakan menolong karena dia melihat dari kacamatanya sendiri yaitu realitas bahwa dirinya tidak dapat berenang. Kondisi sang ikan yang megap-megap semakin menegaskan dirinya bahwa sang ikan pasti butuh pertolongan, karena dia membayangkan dirinya yang tidak dapat berenang berada di tengah-tengah kolam pasti kondisinya seperti itu, megap-megap dalam rangka berusaha untuk bernapas.

            Lalu, pertanyaannya adalah apakah yang dilakukan sang monyet adalah salah? Bukankah niatnya adalah baik, yaitu ingin menolong sang ikan? Jika salah, di manakah letak salahnya?

            Niat sang monyet memang baik. Namun niat baik saja tidaklah cukup untuk memperoleh hasil yang baik. Yang salah dari monyet tersebut adalah dia tidak memahami hakikat peristiwa. Dia tidak memahami bahwa hakikat ikan adalah hidup di air, dan kondisi ikan mas memang seperti itu, mulutnya selalu megap-megap. Demikian juga yang dilakukan oleh para pengambil kebijakan di berbagai negeri yang sering klai tidak memahami hakikat peristiwa.

            Ada beberapa hal mengapa mereka tidak dapat melihat hakikat peristiwa. Yang pertama adalah kebodohannya atau kekurangpengetahuannya. Yang kedua adalah keegoannya atau keakuannya. Untuk yang pertama dapat diatasi dengan belajar lebih banyak lagi. Namun sering kali, kekeliruan pengambilan kebijakan tersebut disebabkan karena keegoannya, memaksakan melihat peristiwa atau persoalan tersebut dari sudut pandangnya. Bahkan yang lebih celaka lagi, segala kebijakan yang diambil dalam rangka untuk kepentingannya. Jika ini yang terjadi berarti orang tersebut lebih buruk daripada monyet tersebut.

            Jadi, niat baik saja tidaklah cukup, pahamilah hakikat peristiwa. Untuk memahami hakikat peristiwa, kita harus memperbanyak informasi dan pengetahuan, menghilangkan terlebih dahulu asumsi-asumsi. Orang bijak pernah berkata, “Memahami hakikat persoalan sama saja telah menyelesaikan separuh persoalan tersebut”.

  

— M H S —

Oleh: maxsahuleka | November 5, 2007

Keluar dan Masuk Islam Gara-gara Bola

Saya memang dilahirkan sebagai muslim, tetapi ketika saya masih kanak-kanak, saya tidak pernah tahu apakah itu Islam. Yang pasti, saya lebih sering pergi ke Gereja dibandingkan masjid. Saya sering diajak pergi ke Gereja setiap minggu oleh Om saya (almarhum) dengan Vespanya. Pada saat itu, saya pun tidak tahu apa itu Gereja. Saya mau ikut Om saya ke Gereja dalam konteks diajak jalan-jalan. Memang, setiap habis dari Gereja, saya selalu diajak jalan-jalan bertamasya oleh Om saya.

Pada suatu ketika (ketika saya masih kelas 1 SD), ketika pelajaran agama Islam, saya ditanya oleh guru saya apakah agama saya? (Yang saya tidak habis pikir, mengapa guru saya bertanya tentang hal itu? Apakah karena nama saya yang kebarat-baratan atau bernuansa agama Kristen? Apakah guru saya tidak pernah melihat database tentang saya termasuk agama saya yang saya yakin agama yang dicantumkan oleh orang tua adalah Islam karena orang tua saya adalah beragama Islam.) Lalu saya bertanya kepada guru saya, “memang kenapa Bu?” “Bagi yang bukan beragama Islam, boleh untuk keluar kelas terserah mau melakukan kegiatan apapun asalkan tidak mengganggu suasana belajar”, kata guru saya. Lalu saya lihat keluar jendela, rekan-rekan saya yang nonmuslim sedang asyik main bola di halaman sekolah. Lalu saya bertanya kepada guru saya, “memangnya sekarang kita belajar apa?” Guru saya menjawab bahwa sekarang kita belajar baca Al-Quran. Lalu saya lihat buku panduan baca Al-Quran yang telah dibagikan oleh guru saya, dan kemudian benak saya berkata, “apa pula ini? Huruf apa pula ini? Apa bacaannya atau bagaimana membacanya?” Menganggap hal itu sulit, secara spontan saya mengatakan kepada guru saya bahwa saya beragama Kristen tanpa pernah tahu apakah Kristen itu, yang pasti dalam benak saya berkata “mendingan gue main bola aja daripada belajar, bikin pusing.” Sejak saat itu, di buku rapor saya dicantumkan bahwa agama saya adalah Kristen. Dan orang tua saya tidak pernah tahu hal itu karena yang selalu mengambil rapor adalah sepupu saya yang beragama Kristen, karena orang tua saya selalu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi anehnya, setiap malam takbiran, saya selalu ikut dengan rekan-rekan saya untuk keliling takbiran, dan setiap bulan Ramadhan saya ikut-ikutan puasa, apalagi sahur dan main-main sesudah sahur, yang salah satu kegiatan yang saya suka pada saat sahur adalah perang petasan. Kira-kira, saya masih Islam atau nggak ya? Yang pasti di rapor saya agama yang tertera adalah Kristen.

Lalu ketika kelas 4 SD, karena pindah rumah, saya pindah sekolah. Di lingkungan rumah yang baru, saya langsung berbaur dengan rekan-rekan saya yang ada. Dan saya sering bergabung dengan rekan-rekan saya untuk main bola, yang ternyata rekan-rekan saya adalah anak-anak pengajian. Dan main bolanya kadang-kadang sebelum atau sesudah pengajian, tapi biasanya sesudah pengajian. Suatu ketika saya ikut main bola sebelum pengajian, dan selesai main bola, saya diajak ikut ke tempat pengajian oleh teman saya. Karena sudah ada ikatan emosional, saya ikut saja teman saya ke pengajian. Dan entah kenapa, belajar baca Al-Quran yang dulu saya anggap sulit menjadi mudah. Dan saya semakin tertarik untuk belajar baca Al-Quran karena tidak mau kalah dengan teman saya. Dan secara bertahap, saya kemudian mempelajari bagaimana cara shalat dan berwudhu, dan yang lainnya. Apakah saya sudah Islam? Entahlah, yang pasti ketika didaftarkan di sekolah yang baru, agama yang dicantumkan oleh orang tua saya (almarhum, semoga Allah menempat mereka di Surga) adalah Islam.

Jika Islam masuk ke Indonesia melalui perdagangan, Islam masuk ke diri saya melalui Sepak Bola. I Love Football :-)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori