Surat Abasa (Surat ke-80)
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Dia bermuka masam dan berpaling.
Karena telah datang seorang buta kepadanya.
…………………………
Banyak ulama meyakini bahwa kata ‘dia’ dalam ayat tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad. Berikut ini adalah dialog saya dengan seorang ustad (yang saya tidak perlu saya sebutkan namanya) setelah selesai acara bedah buku di Al-Azhar yang pada akhirnya membahas tentang ayat tersebut?
Saya :
“Saya setuju dengan pernyataan ustad yang menyatakan bahwa di tengah-tengah masyarakat ada upaya untuk mendiskreditkan Islam yang dilakukan dengan berbagai cara. Dan seperti yang anda katakan, bukan hanya upaya untuk mendiskreditkan Islam melainkan juga upaya mendiskreditkan nabi, seperti pendiskreditan citra para nabi, yang bahkan hal tersebut termaktub dalam Injil.”
“Menurut saya, hal tersebut juga menimpa diri Rasulullah. Ada upaya-upaya yang menurut saya adalah upaya mendiskreditkan nabi, bahkan dengan cara yang sangat halus. Jika pendiskreditan citra para nabi sebelum Rasulullah dilakukan dengan cara yang terang-terangan yaitu dengan mengubah teks-teks Injil tentang kisah para nabi, maka dalam Islam hal tersebut terjadi melalui terjemahan dan tafsiran.”
“Dan banyak terjemahan dan tafsiran yang menurut saya perlu kita kritisi. Terjemahan dan tafsiran tersebut patut dikritisi bukan hanya karena landasannya tidak kuat melainkan juga bersifat mendiskreditkan nabi entah kita menyadarinya atau tidak. Salah satunya adalah tentang surat Abasa. Apakah menurut anda, yang bermuka masam yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah Rasulullah?”
Ustad :
“Menurut saya, ayat tersebut sudah jelas, bahwa yang bermuka masam di situ adalah Rasulullah. Hal tersebut terjadi ketika suatu ketika nabi sedang bersama kalangan bangsawan Quraisy tiba-tiba datang seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Lalu Rasulullah bermuka masam terhadap orang buta tersebut karena kurang tepat waktu, tempat dan kondisinya, karena saat itu Rasulullah sedang membahas urusan yang sangat penting dengan kalangan bangsawan Quraisy tersebut. Ayat tersebut adalah teguran kepada Rasulullah atas sikapnya tersebut. Dan hal tersebut juga sudah jelas karena al-Quran diturunkan kepada nabi Muhammad. Jadi, jelas yang dituju dalam ayat tersebut adalah nabi Muhammad.”
Saya:
“Al-Quran memang diturunkan kepada nabi Muhammad, tetapi banyak pula ayat yang turun yang ditujukan kepada orang lain atau suatu kelompok atau masyarakat.”
“Lagipula jika ayat tersebut diturunkan dalam konteks Allah ingin menegur Rasulullah, mengapa kata ganti orang yang digunakan di situ adalah ‘Dia’, bukannya menggunakan kata ‘engkau’ atau ‘kamu’?”
Ustad:
“Dalam struktur bahasa Arab, penggunaan kata ‘engkau’ atau ‘kamu’ bisa berlaku untuk subyek yang sama. Misalnya saja, Allah kadang-kadang menggunakan kata ‘Aku’, ‘Engkau’, atau ‘Dia’ bahkan ‘Kami’.”
Saya:
“Saya nggak ngerti, kok tiba-tiba larinya ke Allah. Lagi pula Allah menggunakan kata ganti Diri-Nya dengan ‘Aku’, Engkau’, ‘Dia’ dan ‘Kami’ tergantung ‘posisi’ Allah ketika ayat tersebut disampaikan. Ketika ayat tersebut diturunkan dalam konteks seolah-olah Allah yang berbicara langsung, maka kata ganti yang digunakan adalah ‘Aku’ Sedangkan jika ayat tersebut diturunkan kepada manusia, dan seolah-olah manusia yang sedang berbicara atau menunjuk pada Allah, maka kata ganti yang digunakan adalah ‘Engkau’ atau ‘Dia’, kata ‘Engkau’ merujuk ketika posisi si hamba yang seolah-olah sedang berbicara tersebut melalui al-Quran adalah terasa sangat dekat. Dan jika ayat tersebut seolah-olah Allah juga melibatkan manusia atau utusannya, maka kata ganti yang digunakan adalah ‘kami’. Menurut saya ini adalah sederhana saja.”
Ustad:
“Struktur bahasa Arab tidak sesederhana yang anda paparkan. Dan ada baiknya jika anda ingin membahas tentang hal tersebut dari segi bahasa maka tanyakan saja kepada orang yang ahli bahasa Arab, karena saya kurang menguasai untuk hal tersebut.”
Saya:
“Baiklah, kalo begitu saya akan melihat atau bertanyanya dari hal yang lain. Menurut anda, di manakah letak uswatun hasanah (berbudi pekerti yang agung)-nya Rasulullah dari sikap seperti itu? Lalu di manakah letak ketauladan nabi dari sikap seperti itu? Bagaimanakah sikap itu dapat memberi pelajaran bagi umat?”
Ustad:
“Memang, ada sebagian orang yang berkeberatan dengan hal tersebut (bahwa nabi Muhammadlah yang bermuka masam), terutama kalangan Syi’ah (tapi bukannya saya menuduh mas adalah Syi’ah). Kalangan Syiah menolak hal ini (bahwa nabi Muhammad yang bermuka masam) karena kemaksuman nabi yang mereka pahami adalah nabi benar-benar terjaga dari segala sifat yang buruk. Padahal itu hal yang manusiawi. Kemaksuman nabi justru ketika baru sedikit saja berbuat hal yang mungkin kurang baik, padahal itu hal yang biasa saja, Allah sudah menegurnya sehingga beliau terjaga akhlaknya. Apalagi Abdullah bin Ummi Maktum datang pada saat yang kurang tepat untuk bertanya kepada nabi, karena nabi saat itu sedang membahas hal-hal yang sangat penting dengan kalangan bangsawan Quraisy.”
“Justru pesan yang ingin disampaikan di situ adalah bahwa hal tersebut adalah hal yang wajar saja, dan menunjukkan bahwa nabi adalah manusia juga seperti kita. Justru ayat tersebut menegaskan bahwa kita hendaknya jangan bermuka masam karena Allah sendiri menegur nabi karena bersikap seperti itu.”
Saya:
“Apakah yang namanya manusia ada kemestian untuk bermuka masam sehingga dia akan disebut bukan manusia atau kehilangan kemanusiaannya jika dia tidak pernah bermuka masam?”
“Apakah nabi harus melakukan keburukan terlebih dahulu baru kemudian ditegur oleh Allah untuk menunjukkan dan mengajarkan kepada kita bahwa perbuatan tersebut adalah buruk dan janganlah dilakukan. Bukankah itu justru malah bisa menjadi justifikasi atas sikap kita jika melakukan itu. Misalnya saja, ketika kita bermuka masam, kita bisa saja mencari justifikasi dengan mengatakan “nabi saja bermuka masam, apalagi saya, masa saya tidak boleh”. Bukankah kita akan lebih mudah untuk tidak bersikap seperti itu jika Rasulullah yang merupakan tauladan kita tidak pernah melakukannya? “Kalo begitu ‘bermuka masam’ termasuk sunnah nabio dong”, kata saya terhadap ustad tersebut. “Pantas saja saya sering menemukan orang-orang Islam, bahkan banyak ustad, yang suka bermuka masam. Dan jangan-jangan ayat ini yang dijadikan landasannya.”, kata saya agak menyindir.
“Kelihatannya kita menghukumi sifat nabi dari kacamata kita, bukannya kita yang bercermin pada nabi. Karena kita atau mayoritas orang suka bermuka masam maka kita generalisasikan bahwa semua manusia, termasuk Rasulullah, pasti (pernah) bermuka masam. Jadi ada logika yang terbalik bahwa kita menghukumi karakter nabi dari kacamata kita, bukan menghukumi kita dari kacamata nabi. Dan menurut saya, jelas tidak ada sedikitpun budi pekerti yang agung dari sikap bermuka masam tersebut. Dan saya tidak tahu apakah pendapat saya ini menurut pandangan Syiah atau bukan, yang jelas saya menelaahnya dengan menggunakan dali aqli, baik secara logika, riwayat maupun yang lainnya.”
“Dalam banyak ayat dan hadits, nabi mengajarkan kepada kita agar kita peduli terhadap kaum fakir, miskin, papa, tertindas atau yang kurang beruntung. Lalu di manakah letak kekonsistenan nabi terhadap apa yang diajarkannya tersebut dengan sikap seperti itu? Layakkah kita mengikuti seseorang yang tidak konsistenan? Hal ini kurang lebih sama, jika kita mau analogikan, dengan orang-orang yang sering kali mengatasnamakan dan membela rakyat untuk memperoleh kedudukan, tetapi ketika dia sudah menjadi pejabat, dia enggan untuk bergaul dengan rakyat, sehingga kalo ada rakyat yang ingin bertemu dengannya dia tolak kedatanggannya atau bermuka masam kepada mereka jika mereka sudah terlanjur datang.”
Ustad:
“Itu sih terserah anda mau mengikuti Rasulullah atau tidak”, katanya agak kesal. “Lagipula anda tidak bisa menganalogikan nabi dengan para pejabat tersebut! Al-Quran tidak bisa anda jelaskan dengan hanya menggunakan akal.”
Saya :
“Lah, bukankah banyak ayat dalam al-Quran memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita? Bahkan ada ayat di al-Quran yang menyatakan bahwa orang-orang yang masuk neraka nanti berkata ‘jika kami dahulu menggunakan akal kami niscaya kami tidak seperti ini (berada dalam neraka)’.”
“Baiklah jika anda berkeberatan dengan logika, saya akan mengkritisinya dari sisi riwayat, karena landasan atas tafsiran tersebut berangkan dari sebuah riwayat. Tapi pernahkah anda juga mendengar ada riwayat yang menurut saya lebih sahih yang menunjukkan bahwa bukan nabi Muhammad yang bermuka masam, melainkan salah seorang bangsawan Quraisy yang cukup ternama? Dia bermuka masam karena ketika orang buta tersebut (Abdullah bin Ummi Maktum) datang, Rasulullah menyambutnya dengan penuh hormat dan memberikan tempat duduk yang paling dekat dengan dirinya. Karena Abdullah bin Ummi Maktun miskin dan buta, para pembesar Quraisy merendahkannya dan mereka tidak suka dengan penghormatan dan penghargaan yang ditujukan kepadanya oleh nabi Muhammad saw. Mereka juga tidak suka dengan kehadiran orang buta di tengah-tengah mereka sendiri dan perkataannya yang menyela perbincangan mereka dengan nabi Muhammad saw. Akhirnya, salah seorang dari Bani Umayah (yakni Utsman bin Affan) bermuka masam dan berpaling kepadanya.”
“Menurut saya, langkah nabi yang menyambut Abdullah bin Ummi Maktum dengan hormat dan memberikan tempat duduk di sampingnya merupakan dakwah yang sangat bijak untuk mengajarkan bahwa hendaknya kita memperlakukan semua manusia itu adalah sama kepada kalangan bangsawan tersebut yang menilai manusia dari sisi kekuasaan dan kekayaannya.”
Ustad:
“Ya, saya pernah mendengar versi riwayat yang seperti itu. Dan umumnya riwayat tersebut banyak diriwayatkan dan lebih dianggap sahih oleh ulama dan kalangan Syiah. Karena mereka umumnya membenci sebagian sahabat, khususnya tiga khalifah pertama setelah nabi karena dianggap telah mengambil haknya Ali sebagai pemimpin. Dan riwayat yang anda paparkan tersebut jelas merupakan versi Syiah karena mereka sering kali berupaya ingin mendiskreditkan para sahabat.”
Saya:
“Waduh, kok Syiah dibawa-bawa lagi. Saya memaparkan riwayat tersebut agar kita mau menelusuri kesahihan sebuah riwayat. Jika anda keberatan, anda kemukakan sumber riwayat yang anda kemukakan demikian juga saya untuk kemudian kita telaah secara sanadnya.” “Mengenai kepemimpinan pasca Rasulullah wafat, kalo kita mau diskusi, ini nanti panjang lagi.”
“Tapi saya merasa aneh dengan anda, anda berkeberatan ketika saya katakan bahwa yang bermuka masam adalah Utsman bin Affan, tapi anda tidak ada sedikit pun berkebaratan bahkan yakin ketika itu dinisbatkan kepada nabi Muhammad saw.” “Manakah yang lebih mulia, nabi Muhammadkah atau Utsman bin Affan?” “Saya yakin jawabannya sudah jelas, yaitu nabi Muhammad saw. Jadi akan lebih mudah kita terima secara logika yang bermuka masam itu adalah Utsman bin Affan dibandingkan Rasulullah. Tapi jika anda berkebaratan dengan hal tersebut, setidak-tidaknya anda bisa meyakini yang penting bukanlah nabi Muhammad yang bermuka masam.”
Ustad:
“Wah, anda tidak bisa menjelaskan dengan retorika seperti itu
Saya:
“Saya nggak habis pikir, kenapa anda sangat berkeberatan dengan pernyataan saya yang menyatakan bahwa bukanlah nabi Muhammad yang bermuka masam yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.”
“Baiklah, ini yang terakhir, menurut anda manakah yang lebih baik, berprasangka baik (husnudzan) atau berprasangka buruk (su’udzan)?
Ustad:
“Menurut saya itu sudah jelas jawabannya, yaitu berprasangka baik.”
Saya:
“Saya setuju dengan anda, berprasangka baik adalah lebih baik dibandingkan berprasangka buruk. Jadi, jika saya meyakini bahwa bukan nabi Muhammad yang bermuka masam, dan jika ternyata nabi Muhammadlah yang bermuka masam, berarti saya sudah berprasangka baik terhadap nabi. Tapi jika anda meyakini bahwa nabi Muhammadlah yang bermuka masam, dan jika ternyata bukan nabi Muhammad yang bermuka masam, berarti anda sudah berprasangka buruk kepada nabi Muhammad.”
“Bukankah Allah meminta kita agar mencintai Rasulullah, bahkan mencintai Rasulullah melebihi kecintaan kita terhadap diri kita sendiri?” “Jadi, jika kita tidak mencintai Rasulullah dengan kecintaan yang melebihi kecintaan kita terhadap diri kita sendiri saja tidak boleh, apalagi sampai berprasangka buru atau mendiskreditkan nabi. Na’udzubillah min dzalik.”
“Terima kasih ustad, anda sudah meluangkan waktu buat saya untuk berdiskusi. Semoga ada manfaatnya bagi saya. Mungkin lain waktu, kita bisa berdiskusi lagi.”
— M H S —